Jem! My beautiful Jem and his violin!
In honor of this fabulous piece of art, I’ve put up one of the bits of special content from Clockwork Prince: Burning Bright. Jem’s meeting with Tessa in Clockwork Angel from his point of view.
For that was what love was, wasn’t it — to burn bright in someone else’s eyes?
And another request! Jem ;3; beautiful Jem.
I can never decide who to root for. Jem is so sweet and genuine but Will has spent all his life suffering and he needs love too! AUGH!!
What We Should Bring To Bali
Assalamualaikum, hello guys
long time no see ya :)
last week i just spent my holiday On Bali and i want to share my experience on there. Ok, the first thing if you want to spent your holiday on there you must prepare some stuff right? So, This post is about what should you bring to Bali…
1. Sunglasses

2. Sun Block

3. Clothes For Tropic Area Like T-Shirt, Pants, etc.

4. Camera Or Handycam

Ok, That’s All From Me
Thank You
Wassalamualikum
My Vacation On Bali!!
Ketika Wanita Menangis
Ketika wanita menangis,
itu bukan berarti dia sedang mengeluarkan senjata terampuhnya,
melainkan justru berarti dia sedang mengeluarkan senjata terakhirnya
Ketika wanita menangis,
itu bukan berarti dia tidak berusaha menahannya
melainkan pertahanannya sudah tak mampu lagi membendung air matanya
Ketika wanita menangis,
itu bukan karena ia ingin terlihat lemah,
melainkan karena dia sudah tak sanggup berpura-pura kuat
-let go -
Another Time
Damn it! Pekik Sita dalam hati, kenapa sih Dio gak ngerti perasaannya? Kenapa sih ia harus ngelihat Dio mesra-mesraan sama Risa? Kenapa? Sita terus berjalan sepanjang koridor, sampai di depan kelasnya, menguatkan hati untuk membuka pintu, tangannya terdiam pada gagang pintu yang dingin, benaknya dibiarkan ikut merasakan dinginnya gagang pintu, ada ruang di perutnya yang terasa tertekan. Pintu ia tarik membuka, matanya liar memandang sekeliling kelas. Proyektor masih menyala dengan film yang masih berjalan. Kelasnya nyaris lengang, hanya tersisa 4 orang. Alfi, Dino, Risa, dan ia sendiri. Kepala Risa berada di pangkuan Dio, pandangan keduanya melihat ke arah proyektor, sementara tangan Dio masih sibuk memainkan jemari Risa. Perih. Sita memalingkan pandangannya,berjalan ke arah mejanya, memasukkan buku-buku ke dalam tas.
“Kamu mau pulang, ta?” tanya Alfi
“ehm, classmeetingnya udah selesai”jawab Sita mengangguk
“yaudah aku juga pulang deh, udah dijemput nih” jawab Alfi “Dio, Risa! Pacaran mulu! kita pulang duluan ya” Alfi memberitahukan
“okey, aku sama Risa juga mau pulang” jawab Dio
“bye….” Alfi dan Sita berjalan keluar kelas.
Sita memutar matanya, benar-benar enggak sanggup lebih lama lagi berada disini, Sita memelas dalam hati, berusaha sekeras mungkin untuk tersenyum ke arah Risa dan Dio. Dio setidaknya. Berjalan dikoridor. Gerimis mulai turun membasahi lapangan.
“….apa, ta?” tanya Alfi
Sita memandang Alfi dengan bingung. “ Kamu pasti gak denger kata-kata aku dari tadi kan?, keliatan dari tampang kamu..”
“maaf” jawab Sita tidak berusaha mengelak “tadi aku tanya, kamu udah makan? Kamu keliahatan gak sehat ta…” ujar Alfi
“emmm, udah kok” jawab Sita
“eh, mama aku udah jemput, dah sita..”
“dah..” ujar Sita nyaris tak terdengar.
Sita terus berjalan ditengah gerimis, ia kira dirinya akan menangis, tapi tidak, ia hanya merasa kosong, hampa, mungkin ia sadar, kalaupun ia menangis tidak ada seorangpun yang bisa menenangkan dirinya, bahkan mungkin dirinya sendiri. Angkot yang seharusnya ia naiki terus berlalu dihadapannya, tapi ia hanya diam sementara gerimis perlahan menjadi hujan.
6 bulan kemudian.
“huft…akhirnya kelar juga!” ujar Reza, si ketua OSIS.
“alhamdulillah kelar juga acaranya!” ujar Sita penuh syukur.
Pelipisnya dibasahi peluh, kebaya juga nyaris kuyup. Akhirnya acara Kartinian di sekolahnya selesai juga. Sita sebagai anggota OSIS di sekolah bertindak sebagai panitia dibuat kelimpungan selama acara ini berlangsung, tapi akhirnya acara itu berakhir juga, sukses pula.
“Thanks all, acara ini sukses karena kalian juga, thank you so much” ujar Lidya yang bertindak sebagai ketua pelaksana.
Setelah mengganti bajunya menjadi kaos merah polos dan jeans dan menguncir rambutnya yang nyaris sepinggang, ia bersiap untuk pulang. Sekolah sudah mulai sepi, hanya beberapa anak yang tersisa.
“Sita!” seseorang memanggil Sita, sebelum sempat melihat siapa yang memanggilnya, ia sudah tau siapa itu.
“Kenapa?” tanya Sita
“Kamu mau pulang?” tanya Dio
“iya, kenapa? “
“mau temenin aku pergi gak? tanya Dio
“kemana?” “kemana kek, nonton, nyari buku, apa aja lah..” jawab Dio
“emmmm”
“mau gak?” tanya Dio lagi
“okey” jawab Sita.
Perjalanan ke Mall sore itu berjalan lancar. Mobil Dio memasuki basemen parkiran, mencari tempat parkir.
“ kamu diem banget” ujar Dio
“emmm”.
Dio sudah memarkir mobilnya, bersiap untuk turun.
“kenapa kamu gak ngajak Risa, malah ngajak aku?”tanya Sita
“aku baru putus sama dia tadi”jawab Dio datar, Sita berpaling ingin melihat wajah Dio, tapi Dio sudah keluar dari mobilnya. Sita mengikutinya keluar mobil. Berjalan di samping Dio. Tidak bertanya lebih jauh mengenai hal yang ia tanyakan di mobil sebelumnya. Mereka berdua hanya terdiam. Layar bioskop menampakkan film action, Sita cukup terbawa dengan Film itu sampai akhirnya ia melihat Dio. Dio tertidur disampingnya, Matanya memejam menghadap ke arah layar. Wajahnya benar-benar damai, pikir Sita. Dio tertidur sampai film selesai, ketika lampu mulai dinyalakan ia belum juga terbangun. Beberapa saat kemudian ia terbangun, mengajak Sita untuk makan. Kemudian ke toko buku beberapa lama, dan setelahnya pulang. Malam itu gerimis kembali turun. Perjalan pulang keduanya hanya berdiam diri. Saat memasuki komplek rumah Sita, Dio mulai berbicara.
“Sebenernya, aku belum putus sama Risa, ta” aku Dio
“oohh” jawab Sita
“aku bener-bener butuh temen, sebelum pergi tadi, aku berantem hebat sama dia, dan aku bingung harus gimana” cerita Dio
“ohh”jawab Sita lagi Mobil Dio sudah berhenti di depan rumah Sita.
“Makasih ya sit, makasih banyak kamu udah mau nemenin aku hari ini” ujar Dio sambil menatap Sita. Sita hanya terdiam.
“sama-sama” jawab Sita tanpa membalas pandangan Dio, Sita beranjak keluar mobil. Sita berdiri menatap mobil Dio pergi membelah hujan. Ia sendiri hanya terdiam di tengah hujan yang perlahan menjadi semakin deras.
“Kamu bodoh!” teriak Sita
“Kamu bodoh banget yo!” teriak Sita serak
“bodoh!bodoh!bodoh….”teriakan Sita berubah menjadi isakan.
Akan selalu ada keadaan, kenangan, dan orang-orang tertentu yang pernah singgah dalam hati kita dan meninggalkan jejak langkah di hati kita dan meninggalkan jejak langkah di hati kita dan kita pun tidak akan sama seperti sebelumnya
this is my class and my classmate now (i’m in grade XI ) and we take this photo with our biology teacher Mam Asmarni, I miss her so badly!!
…..and in the end, the love we take is equal to the love we make
Welcome!
Finally, i have a tumblr!, i taken sometime to make “the name” for this tumblr. Next time i’ll fill this tumblr with my journey in this wonderland, bye
